Breaking News

Begalan Jaka Kaiman : Ketika Tradisi Banyumas Bertemu Perubahan Zaman

80669894
Bagikan
Lihat Tersimpan

Banyumas – Reazon.id — Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, akan menjadi tempat digelarnya “Begalan Jaka Kaiman” pada Sabtu (26/9/2026). Pagelaran ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Babad Banyumas dengan menghadirkan Begalan dan Gubrag Lesung dalam satu pementasan.

Pertunjukan tersebut dikemas oleh budayawan Banyumas Nassirun Purwokartun atau Kang Nass. Ia mengangkat kisah Raden Jaka Kaiman sebagai bagian dari cerita yang melatarbelakangi tradisi Begalan di Banyumas.

Kang Nass mengatakan, gagasan tersebut muncul setelah ia membaca sejumlah naskah Babad Banyumas dan menemukan keterkaitan antara tradisi Begalan dengan pernikahan anak sulung Raden Jaka Kaiman.

“Sepertinya belum banyak yang tahu sejarah awal mula adanya tradisi Begalan di Banyumas. Setelah saya baca naskah-naskah Babad Banyumas, ternyata bermula dari pernikahan anak sulung Raden Jaka Kaiman. Akhirnya, saya angkat menjadi sebuah pagelaran,” ungkap Kang Nass.

Begalan sendiri tidak berdiri di luar kehidupan sosial masyarakat Banyumas. Dalam tradisi perkawinan tertentu, pertunjukan ini menjadi medium penyampaian pitutur luhur kepada pengantin. Pesan tersebut disampaikan melalui simbol-simbol yang diwujudkan dalam berbagai peralatan rumah tangga.

Sementara Gubrag Lesung memiliki akar yang berbeda. Kesenian ini tumbuh dalam kehidupan masyarakat agraris ketika lesung dan alu menjadi bagian dari aktivitas pengolahan padi.

Bunyi pukulan alu pada lesung kemudian membentuk irama yang mengiringi masyarakat berdendang selepas bekerja.

Perubahan teknologi pengolahan padi kemudian ikut mengubah ruang sosial tempat kesenian tersebut hidup. Setelah mesin penggiling padi digunakan secara luas sekitar 1980-an, Gubrag Lesung semakin jarang ditemui.

Kesenian tersebut tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Banyumas yang ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 2020.

Sejak 2019, Kang Nass berupaya menemukan kembali lesung yang masih tersisa di Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Dari pencarian tersebut, ia menemukan tiga lesung yang kemudian dimainkan kembali bersama warga melalui kelompok Pangastawa.

“Begalan Jaka Kaiman” kemudian mempertemukan dua kesenian dengan latar sosial yang berbeda dalam satu panggung. Di dalamnya terdapat kisah Raden Jaka Kaiman, tradisi perkawinan Banyumas, serta jejak kehidupan agraris yang direpresentasikan melalui Gubrag Lesung.

Pagelaran tersebut akan berlangsung di Desa Mandirancan, Kebasen, Banyumas, Sabtu (26/9/2026), sebagai bagian dari Festival Babad Banyumas.***

Penulis

Reazon-03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *