Breaking News
Advertisement

Soe Hok Gie: Demonstran yang Menolak Diam

Buku Gie
Bagikan
Lihat Tersimpan

Soe Hok Gie lahir di Jakarta, 17 Desember 1942. Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan dunia sastra. Kakaknya, Soe Hok Djin, kemudian dikenal sebagai Arief Budiman. Sejak remaja, Gie sudah gemar membaca dan menulis. Kebiasaan itu kelak menjadi bagian penting dari cara ia melawan: bukan hanya melalui demonstrasi, tetapi juga melalui tulisan.

Gie kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jurusan Sejarah, sejak 1962. Pada masa politik Indonesia sedang bergolak, ia aktif menyuarakan kritik terhadap kekuasaan dan berbagai persoalan sosial. Ia dikenal sebagai salah satu aktivis mahasiswa yang terlibat dalam gerakan mahasiswa 1960-an, tetapi sikap kritisnya tidak berhenti pada satu kekuasaan atau satu kelompok politik. Ia mempertahankan jarak kritis terhadap kekuasaan yang menurutnya menyimpang dari kepentingan rakyat.

Bagi Gie, menjadi mahasiswa bukan sekadar status akademik. Ia melihat intelektual sebagai seseorang yang memiliki tanggung jawab terhadap kemanusiaan.

“Bagiku kaum intelegensia ialah kaum yang dipanggil oleh kemanusiaan dan menuntut terhadap dirinya tugas itu.”

Dalam catatan lainnya, Gie menulis kegelisahannya terhadap praktik demokrasi yang kehilangan makna:

“Kita memuji demokrasi tetapi memotong lidah seseorang kalau berani menyatakan pendapat yang merugikan pemerintah.”

Tulisan-tulisan Gie memperlihatkan seorang anak muda yang tidak hanya marah terhadap keadaan, tetapi juga terus mempertanyakan dirinya sendiri. Ia menulis tentang politik, mahasiswa, kemanusiaan, cinta, kematian, kesepian, alam, hingga kegelisahan melihat masyarakat di sekelilingnya.

Karena itu, Catatan Seorang Demonstran tidak sekadar menjadi catatan tentang aksi mahasiswa. Buku tersebut adalah kumpulan catatan harian yang memperlihatkan pergulatan seorang manusia muda ketika berhadapan dengan kekuasaan, idealisme, persahabatan, dan kenyataan hidup. Buku itu pertama kali diterbitkan LP3ES pada 1983.

Salah satu catatan Gie yang paling banyak dikenang berbicara tentang kemanusiaan:

“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasakan kedukaan.”

Di titik ini, Gie tidak hanya berbicara tentang demonstrasi. Ia berbicara tentang alasan mengapa manusia harus tetap memiliki kepekaan terhadap manusia lainnya.

Gie juga memiliki hubungan yang kuat dengan alam dan kegiatan mendaki gunung. Bersama Mapala UI, ia melakukan berbagai kegiatan pendakian. Gunung baginya bukan sekadar tempat melarikan diri dari hiruk-pikuk politik. Alam justru menjadi bagian dari cara melihat Indonesia dan masyarakatnya secara lebih dekat.

Namun hidup Gie berakhir sangat muda. Sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, 16 Desember 1969, ia meninggal di Gunung Semeru bersama rekannya, Idhan Lubis. Gie berusia 26 tahun.

Ia meninggalkan banyak tulisan dan sebuah catatan harian yang kemudian dibaca lintas generasi.

Mungkin warisan Gie bukan sekadar keberaniannya berdiri di barisan demonstrasi. Yang lebih sulit justru mempertahankan keberanian untuk terus berpikir, menulis, dan mengkritik ketika suara mayoritas tidak selalu berada di pihak kita.

Sebab bagi Gie, menjadi manusia berarti tidak kehilangan kemampuan untuk merasa—dan menjadi intelektual berarti tidak berhenti mempertanyakan keadaan.

Penulis

Reazon-03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

AdvertisementAdvertisement
AdvertisementAdvertisement