Breaking News

September dan Lima Buku yang Layak Dibaca Mahasiswa FISIP

Perpustakaan
Bagikan
Lihat Tersimpan

September mungkin bukan bulan yang punya makna khusus bagi semua orang.
Tetapi bagi mahasiswa, September biasanya menjadi masa ketika kampus kembali ramai. Kelas dimulai, organisasi mulai bergerak, diskusi kembali muncul, dan kehidupan kampus perlahan menemukan ritmenya.

Karena itu, September rasanya menjadi waktu yang baik untuk membaca sesuatu yang sedikit lebih serius.

Bukan semata-mata buku untuk mengejar nilai kuliah, tetapi buku yang membantu kita memahami masyarakat, kekuasaan, negara, media, sekaligus posisi kita sebagai mahasiswa di dalamnya.

Ada lima buku yang menurut saya layak masuk daftar bacaan September mahasiswa FISIP.

Pertama, Sosiologi Suatu Pengantar — Soerjono Soekanto.

Buku ini bisa menjadi pijakan sebelum masuk terlalu jauh ke teori-teori sosial. Soerjono Soekanto membahas berbagai konsep dasar sosiologi, mulai dari proses sosial, kelompok sosial, kebudayaan, stratifikasi, perubahan sosial hingga lembaga kemasyarakatan. Buku ini memang terasa seperti buku pengantar, tetapi justru penting karena membantu kita memiliki kerangka dasar untuk membaca masyarakat.

Kedua, Demokrasi Kita — Mohammad Hatta.

Buku yang relatif tipis ini justru menarik karena Hatta membicarakan hubungan antara idealisme demokrasi dan praktik politik Indonesia. Ditulis dalam konteks politik Indonesia pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, Hatta mengkritik perkembangan kekuasaan yang menurutnya semakin menjauh dari prinsip demokrasi. Membacanya hari ini bisa menjadi latihan untuk membedakan antara demokrasi sebagai cita-cita dan demokrasi sebagaimana dijalankan dalam praktik politik.

Ketiga, Catatan Seorang Demonstran — Soe Hok Gie.

Buku ini berbeda dari dua buku sebelumnya. Ia merupakan kumpulan tulisan dan catatan harian Soe Hok Gie, mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, yang merekam kehidupan politik dan sosial Indonesia pada 1960-an. Karena itu, buku ini menarik bagi mahasiswa bukan hanya sebagai cerita tentang demonstrasi, tetapi juga sebagai catatan tentang kegelisahan seorang mahasiswa terhadap politik, kekuasaan, idealisme, dan gerakan mahasiswa.

Keempat, Selections from the Prison Notebooks — Antonio Gramsci.

Kalau ingin mulai masuk ke teori politik yang lebih berat, Gramsci layak dibaca. Buku ini merupakan kumpulan pilihan dari catatan yang ditulis Gramsci selama berada dalam penjara, dengan tema antara lain intelektual, pendidikan, negara dan masyarakat sipil, politik, budaya, serta filsafat. Salah satu alasan penting membacanya adalah gagasan Gramsci tentang bagaimana kekuasaan tidak hanya dipertahankan melalui paksaan, tetapi juga melalui persetujuan dan kepemimpinan intelektual-kultural. Edisi yang terkenal ini diedit dan diterjemahkan oleh Quintin Hoare dan Geoffrey Nowell-Smith.

Kelima, Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media — Edward S. Herman dan Noam Chomsky.**

Untuk mahasiswa yang bersentuhan dengan ilmu komunikasi, politik, atau media, buku ini sangat relevan. Pertama kali diterbitkan pada 1988, buku ini memperkenalkan *propaganda model* untuk menjelaskan bagaimana struktur kepemilikan, kepentingan ekonomi, sumber informasi, dan berbagai tekanan institusional dapat memengaruhi pemberitaan media. Ia mengajak kita melihat media bukan sekadar sebagai pihak yang menyampaikan informasi, tetapi sebagai institusi yang juga bekerja dalam struktur kekuasaan tertentu.

Lima buku ini sebenarnya membawa kita pada satu perjalanan sederhana.

Mulai dari memahami masyarakat, kemudian memahami demokrasi, melihat pengalaman mahasiswa dalam politik, masuk ke persoalan hegemoni dan kekuasaan, lalu berakhir pada pertanyaan tentang bagaimana media membentuk apa yang kita anggap sebagai kenyataan.

Tidak harus selesai semuanya dalam sebulan. Bahkan mungkin tidak perlu.

Sebab membaca buku-buku seperti ini bukan tentang berapa banyak halaman yang berhasil kita tamatkan. Yang lebih penting adalah apakah setelah membacanya kita mulai melihat kampus, organisasi, negara, media, dan masyarakat dengan cara yang sedikit berbeda.

Sebab barangkali itulah gunanya menjadi mahasiswa FISIP. tidak cukup belajar memahami bagaimana masyarakat bekerja, tetapi juga belajar mempertanyakan mengapa masyarakat bekerja dengan cara seperti itu.

Penulis

admin@123

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *